Langsung ke konten utama

Postingan

20 Juni 2026

Bukan tipe yang mudah curhat, bukan karena pandai menyimpan rasa. Tapi hanya takut dihakimi.  Terkadang ngga semua curhat berharap mendapatkan feedback. Hanya butuh didengar dan berharap perasaan yang ada saat itu divalidasi.  Tapi karena tidak semua orang bisa mengerti, yang ada malah penghakiman yang didapat.  Alhamdulillah suami tipe pendengar yang baik, sangat mengerti aku. Tidak pernah menuntut kekurangan ku untuk berubah. Tapi sangat memahami. Justru itu yang membuat aku semakin "tau diri" Ngga mau terlalu membebani dengan segala kegaduhan isi kepala ku.  Masih berharap tulisan ini tidak ditemukan oleh siapapun, apalagi orang terdekat. Karena hanya ingin sekedar menulis dengan leluasa. 
Postingan terbaru

Ruang Bercerita

Bismillahirrahmanirrahim,  Doa ku, semoga tulisan ini tidak sampai kepada orang-orang yang mengenal ku ;)  Tak terbaca siapapun sungguh tak apa, karena aku hanya ingin punya ruang bercerita. Terkadang ngga semua hal yang aku rasakan bisa dimengerti orang lain.  Ngga apa, karena memang wajar saja. Alasannya? Ya entah, pokoknya wajar saja ketika orang lain kurang bisa atau bahkan ngga bisa mengerti pemikiran ku, perasaan ku,,,  Aku capek hidup...  Bukan karena ngga kuat dengan segala probelmatika kehidupan. Aku cuma ngga bisa hidup layaknya manusia pada umumnya.  Aku ngga bisa bersosialisasi, aku kadang ngga punya energy untuk berkomunikasi, aku lelah menjadi manusia "seharusnya" Harus gini, harus gitu...  Aku cuma mau jadi aku aja, tanpa penjelasan. 

100%

Bismillahhirahmannirahim, Ada pendapat yang mengatakan "membangun lebih mudah ketimbang mempertahankan"  Ah tapi ntahlah,buat ku sama-sama sulitnya, apalagi ketika memulai sesuatu dan kemudian hasilnya tidak seperti yang diharapkan, pastilah bertemu dengan pembanding kesulitan yang lain. Kesulitan untuk tetap memiliki semangat yang sama...  Semangat yang sama besarnya ketika awal memulai, semangat 100% yang penuh keyakinan bahwa insyaAlloh hasilnya akan baik. Tapi biasanya ketika hasilnya diluar harapan... kebanyakan membuat semangat menurun, mungkin hanya menyisakan semangat 30% 😛. Kalau sudah begitu, hal yang diperlukan adalah lingkungan yang mendukung. Lingkungan yang terus memberikan kalimat-kalimat penyemangat untuk bisa membuat langkah yang tergontai menjadi langkah yang gegap dengan kekuatan energi 100%. Nah... semoga semangat ku tetap ada untuk dan tetap stabil dengan energi yang ngga kurang,,, yaaa minimal energi 70% lah yaaaa... yuk ditonton video terbaru aku hahah...

Qodarullah - InsyaAlloh kebaikan akan terus terjadi setelahnya

Setelahnya akhirnya qodarullah aku benar-benar ngga bisa jualan lagi di kantor suami, sedih? pastilah :) karena dari hasil berjualan di kantor suami, aku bisa menghasilan rupiah yang bisa digunakan untuk membantu suami. Tidak banyak memang, tapi cukup. Tapi entah karena sebelumnya aku sudah banyak "berbincang" dengan Alloh, rasa sedih menjadi secukupnya saja. walaupun ada tapi terasa sedih yang biasa saja. Tetap merasa tenang, yakin bahwa semua itu terjadi atas izin Alloh. Maka yakin bahwa semuanya akan berjalan dengan sebaik mungkin. Aku selalu pas ketika mendengarkan kajian dari Ustadz Subhan Bawazier, kalau temen-temen yang butuh suntikan iman, apalagi ketika sedang terasa sedang lemah. Bisa teman-teman ikuti instagram beliau, karena hampir setiap hari dan selalu distiap beliau mengisi kajian, beliau akan siaran langsung di akun instagramnya. Oh ya, kembali tentang salah satu isi kajian beliau... dan pasti kalimat ini sudah sangat biasa teman-teman dengar, bahwa Alloh itu...

"berbincang" dengan Alloh

Hari ini aku  upload video baru lagi  isinya tentang kegiatan ku yang dimulai dari jam 3 subuh.  Bikin dagangan, masak harian untuk bekal suami dan makan ku di rumah, juga kegiatan bebersih rumah.  Di video terbaru aku itu, sebenernya mau curcol sedikit kegalauan aku tentang adanya peraturan baru dikantor suami, yaitu larangan berjualan.  Buat aku, jualan di kantor suami itu bukan hanya untuk isi waktu senggang, menyalurkan hobi baking ataupun iseng-iseng. Tapi ya memang kebutuhan untuk bantu suami.  Jadilah peraturan baru itu bikin aku sedih, bisa kerja dari rumah tuh impian aku banget. Walaupun hasilnya ngga sebanyak dan tetap seperti ketika aku jadi karyawan, tapi aku happy... Ketenangan hati pastinya.  Karena memang butuh, jadilah aku 'ngotot' tetap bawa dagangan ke kantor suami, tapi bedanya barang dagangan ku ngga didisplay.  Pengaruh banget sih penghasilannya, dihari itu... Berlanjut dihari ke dua setelah adanya peraturan pelarangan itu....

Persiapan

 Hidup hari ini bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk mempersiapkan hari esoknya, itu kalimat yang aku katakan ke suami. Alasan kalimat itu terucap ketika kami sedang membahas budget rumahtangga. Terkadang yang bikin ngga cukup tuh karena kurang disiplin dengan perencanaan keuangan yang sudah disusun. Dalihnya ' yaudah pake aja yang ada, besok-besok mah gampang lah, liat nanti aja' Padahal nanti yang disepeleken hari ini, bisa jadi adalah waktu yang dimungkinkan untuk terjadinya "bom meledak". Aku termasuk manusia yang selalu overthinking , sudah kepikiran terhadap sesuatu yang belum dijalani. Karena terlalu overthinking jadi selalu mempertimbangkan segala sesuatunya lengkap dengan baik buruknya,,, gimana kalau gini? Gimana kalau gitu? Jujur itu melelahkan, tapi membuat aku ngga menyesal. Karena sudah merasa selalu cukup matang ketika melangkah atau berkeputusan. Tapi bukan kah itu yang namanya mempersiapkan? Bahkan kita hidup ...